kebijakan bank indonesia untuk mengatasi resesi

Kebijakan Bank Indonesia Untuk Mengatasi Resesi

Kebijakan Bank Indonesia Untuk Mengatasi Resesi – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Wajiyo mengatakan perlambatan aktivitas ekonomi global kini meluas. Bahkan, penurunan tersebut lebih tajam dari perkiraan sebelumnya, disertai dengan kenaikan suatu inflasi dan ancaman resesi yang semakin dalam. Pelemahan ekonomi juga dipengaruhi oleh pengetatan kondisi sektor keuangan pada sebagian besar negara karena berbagai faktor.

Konflik Rusia dengan Ukraina dan dampak pandemi Covid-19 tambah memperburuk kondisi ekonomi. Menyikapi situasi ekonomi global yang bergejolak dan mengalami ancaman krisis 2023, Perry mengatakan ada tiga langkah yang perlu diperhatikan untuk mengantisipasi resesi. Berikut ini akan kami uraikan beberapa Kebijakan Bank Indonesia untuk mengatasi resesi, yaitu sebagai berikut.

Kebijakan Bank Indonesia Untuk Mengatasi Resesi

Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan moneter di tengah gejolak ekonomi global dan bayang-bayang resesi ekonomi. Meski optimistis resesi ekonomi tidak akan terjadi di Indonesia, bank sentral tetap mewaspadai kondisi tersebut dengan mengambil sejumlah langkah antisipatif. Berikut adalah kebijakan Bank Indonesia yang diambil pada Rapat Dewan Gubernur September 2019:

Suku Bunga Acuan Dipangkas Jadi 5,25 Persen

Dalam RDG yang digelar kemarin, BI kembali menurunkan suku bunga acuan atau 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) sebesar 25 basis poin, ke posisi 5,25 persen pada September ini. Sementara itu, suku bunga deposit facility dan lending facility juga diturunkan menjadi 4,5 persen dan 6 persen.

“RDG Bank Indonesia pada 18-19 September 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7DRRR menjadi 5,25 persen,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Kompleks Gedung BI, Kamis (19/9). Perry mengatakan, penurunan suku bunga dilakukan untuk mengantisipasi dinamika ekonomi global.

Selain itu, kebijakan ini sesuai dengan proyeksi inflasi yang masih terkendali hingga akhir tahun ini. “Kebijakan ini sejalan dengan prakiraan inflasi yang tetap relatif rendah di bawah titik tengah yang tetap menarik, serta sebagai langkah preventif untuk dapat mendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah perlambatan ekonomi global,” ujarnya.

BI Minta Perbankan Segera Ikuti Aturan Terbaru

Bank Indonesia meminta perbankan segera menurunkan suku bunga kredit, menyusul penurunan suku bunga acuan BI 7 BI7DRRR atau BI7. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penurunan suku bunga kredit perbankan akan mendorong konsumsi masyarakat, investasi, dan pertumbuhan ekonomi.

“Kami berharap perbankan juga menurunkan suku bunga kredit dan simpanan,” kata Perry di Kompleks Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (19/9). Sepanjang tahun ini, Bank Indonesia sudah menurunkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali. Hari ini, suku bunga acuan dari Bank Indonesia turun 25 basis poin menjadi 5,25%.

DP KPR dan Kendaraan Bermotor Bisa 15 Persen

Seiring dengan pemotongan BI 7DRRR, BI juga memutuskan untuk menurunkan aturan uang muka (DP) melalui skema Loan To Value (LTV) untuk kredit properti seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) hingga kendaraan bermotor. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan pelonggaran LTV akan meringankan uang muka KPR sebesar 5 persen dan kendaraan bermotor sebesar 5-10 persen.

Pada Saat ini, aturan DP KPR ditetapkan sebesar 20 persen. Artinya, dengan relaksasi LTV, DP KPR bisa ditekan hingga 15 persen. Sementara DP untuk kendaraan bermotor juga bisa lebih rendah. Saat ini, DP untuk kendaraan bermotor ditetapkan sebesar 20 persen. Uang muka kendaraan bermotor 5 sampai 10 persen,” kata Perry di Gedung BI, Jakarta, Kamis (19/9).

Perry mengatakan relaksasi LTV ditujukan untuk menumbuhkan kredit sehingga berimplikasi pada perekonomian Indonesia yang lebih baik, mulai dari peningkatan konsumsi hingga mengantisipasi gejolak global guna menjaga permintaan domestik.

Selain itu, IMF merekomendasikan untuk memprioritaskan kebijakan fiskal untuk melindungi kelompok rentan lewat bantuan jangka pendek. Targetnya adalah menekan biaya hidup. Dengan keterbatasan likuiditas dalam sektor keuangan, menurut Perry, kebijakan makroprudensial diperlukan untuk mencegah risiko sistemik.

Perbaikan reformasi struktural juga menjadi perhatian, supaya produktivitas dan kapasitas ekonomi meningkat. Langkah ini diambil dalam rangka mengurangi sebuah kendala pasokan dan mendukung kebijakan moneter dalam mengatasi inflasi.

Demikian ulasan tentang Kebijakan Bank Indonesia Untuk Mengatasi Resesi semoga bermanfaat.

Jika Anda sedang mencari game yang menghasilkan uang, coba bermain game slot online saja.

Game yang satu ini terbukti bisa menghasilkan uang dan bisa menjadi salah satu usaha sampingan Anda untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Temukan informasi menarik lainnya di chlg.org